Awas Menguap Bisa Dipenjara
Rasa kantuk dibarengi menguap adalah hal yang lumrah. Namun Clifton Williams Sr, pria berkebangsaan Amerika Serikat mengalami nasib sial. Ia divonis bersalah dan harus menjalani hukuman penjara 6 bulan gara-gara menguap.
Clifton sangat kecewa dengan vonis yang dijatuhkan hakim padanya. Dia tak menyangka, meski tindakan itu tak sengaja. Waktu itu ia menguap di ruang sidang saat menghadiri sidang sepupunya, Jason Mayfield di Pengadilan Juli du Will County di Juliet.
Namun menurut hakim, yang dikutip dari Fox, perbuatan Clifton bukan menguap biasa. Ia menguap sambil mengangkat tangannya dan mengeluarkan suara keras disaat Hakim Daniel Rozak tengah membacakan keputusan atas perbuatan Mayfield. “Itu bukan menguap biasa, tapi perbuatannya itu telah melecehkan pengadilan,” tegas Hakim Rozak yang mengadili Clifton. usa/surya
Pengen Jadi Jutawan, Mengemislah
SYDNEY – Ken Johnson, 52, selalu duduk di dekat toko Myer di Sydney’s CBD (Central Business Discrict), 16 jam sehari. Berbekal papan disampingnya, ia bisa mengumpulkan uang mencapai 418 juta dalam setahun dari para dermawan.
Tulisan yang dibawanya berbunyi ”Butuh bantuan untuk biaya hidup keluarga dan beli obat. Pembayaran penuh sangat membosankan. Tinggalkan saya sendirian jika anda orang yang tidak sopan dan kasar”. Dengan cara bertahan dalam kegiatan monoton itulah Pria asal Newcastle ini menghidupi dirinya di George and Market St. Pada hari biasa, ia mendapat uang antara 600 ribu hingga 1,2 juta rupiah sehari. Jika beruntung, 3,3 juta rupiah bisa masuk kantong dalam sehari.
“Saya kecewa jika mengemis sepanjang Jumat dan hanya mendapat 2 juta rupiah,” katanya. Ia menambahkan ia pulang saat sudah mendapat cukup uang atau memang ingin pulang, tapi di hari baik ia selalu duduk lebih lama dari hari biasa. Ketika Sunday Telegraph menemuinya, hari sedang baik. Dalam 20 menit, ia mendapat sekitar 250 ribu rupiah. Baca entri selengkapnya »
Lakon Tan Malaka Akhirnya Terkuak
JAKARTA – Sejarawan dari Universitas Leiden, Belanda, Harry A Poeze, Selasa (25/8) di Jakarta, meluncurkan buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 2 (Penerbit Yayasan Obor Indonesia). Keberadaan Tan Malaka tidak saja dipaparkan detail melalui tulisan di buku tersebut, tetapi Harry juga menayangkan sejumlah dokumen penting berupa foto-foto dan film.
Pada foto-foto rapat raksasa di lapangan Ikada (sekarang lapangan Monas), Jakarta, 19 September 1945, misalnya, Harry dengan jelimet menemukan seseorang yang memakai helm dekat Bung Karno ketika berpidato. Bahkan pada salah satu foto, Soekarno dan orang itu berjalan berdampingan. Setelah membandingkan berbagai foto itu, Harry berkesimpulan bahwa lelaki berhelm itu adalah Tan Malaka. “Lelaki itu lebih pendek dari Soekarno dan ukurannya di foto ternyata cocok karena tinggi Soekarno adalah 1,72 meter dan Tan Malaka 1,65 meter,” katanya. Baca entri selengkapnya »
Lagu Indonesia ‘Dilupakan’ DPR

Setelah ditutup, Agung meminta hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu paduan suara Gita Bahana Nusantara.
Pembukaan Rapat Paripurna DPR RI di Gedung DPR/MPR Jakarta, Jumat pukul 09.00 WIB tanpa diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Baca entri selengkapnya »
“Contekan” Canggih Ala SBY Saat Berpidato

JAKARTA — Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menyambut Kemerdekaan RI ke-64 di Rapat Paripurna DPR, Jumat (14/8), merupakan pidato terakhir sebelum ia mengakhiri masa pemerintahan 2004-2009 yang dipimpinnya.
Lima tahun ke depan, SBY yang memenangi pilpres bersama Boediono masih akan melakukan hal yang sama. Jika diperhatikan, ada sesuatu yang berbeda saat SBY menyampaikan pidatonya pagi ini.
Tak ada secarik kertas pun di tangannya, seperti sebelumnya kala ia berbicara. Tanpa contekan, tetapi rangkaian kata-kata itu terlontar begitu rapi dan sistematis. Pandangan SBY pun dapat ditebarkan kepada seluruh anggota dewan, perwakilan negara sahabat, dan para menteri yang ada di dalam ruangan. Apa rahasianya? Baca entri selengkapnya »
