Sadis, Video Guru Hajar Murid

Desember 26, 2008 at 10:04 am (Berita 2008)

Friday, 26 December 2008

Jombang – Surya

Kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya kembali terjadi. Bahkan, yang mencuat beberapa hari terakhir di Kabupaten Jombang lebih menggemparkan.

Kekerasan guru terhadap muridnya itu terungkap jelas dalam rekaman video yang diambil dari ponsel berkamera. Rekaman yang dibuat pada 20 Desember 2008 saat peristiwa kekerasan itu berlangsung, kini beredar secara estafet dari satu ponsel ke ponsel lain.

Kepala Sekolah SMPN 1 Mojoagung, Jombang, Zainul Arifin mengakui bahwa rekaman video yang meresahkan itu memang terjadi di sebuah kelas di sekolahnya. Pelaku kekerasan yang terekam dalam video itu adalah seorang guru berinisial MAPP alias YY yang mengajar kesenian.

Dalam rekaman video berformat 3gp yang direkam kamera video ponsel dan berdurasi 28 detik ini, tampak jelas kekerasan terjadi di dalam kelas terhadap siswa yang berseragam pramuka. Belakangan diketahui siswa tersebut bernama Rangga Tirta Asmara, 15, warga Desa Palrejo, Kecamatan Sumobito. Rangga adalah pelajar kelas IX di SMPN 1 Mojoagung.

Dalam video itu tampak tembok sebuah ruang kelas bercat merah muda, dengan dua papan tulis jenis white board di bagian depan. Kemudian satu unit pesawat televisi 14 inci terpasang di tembok depan bagian atas.

Sedangkan si perekam video adalah siswa di ruang kelas itu sendiri, yang duduk di bangku keempat dari depan, di deretan paling kanan. Si perekam video diduga sengaja merekam adegan guru menghukum salah satu muridnya itu.

Pada awal rekaman, tampak Rangga berdiri di depan kelas, tak jauh dari meja tempat sang guru duduk. Tiba-tiba, dalam rekaman video terlihat pak guru itu berdiri dan menggampar pipi kanan korban. Tangan sang guru sempat membentur papan tulis, hingga siswi berjilbab yang terekam di video tersentak kaget. Tak cukup itu, pelaku kembali menampar pipi kiri korban.

Korban mencoba menghindar dengan menoleh ke kiri. Tapi tangan si guru tetap menghantam muka korban, sehingga siswa berpostur kurus ini sempat terhuyung sesaat.

Saat itu, diduga siswa perekam ketakutan, sehingga fokus rekaman ponsel sempat tak terarah. Namun, saat ia kembali fokus merekam, pelaku kembali menampar korban dengan tangan kanannya. Setidaknya, tiga kali korban ditampar.

Ibu Rangga, yakni Solikhatin, tidak bersedia berkomentar banyak tentang insiden penghajaran itu. Solikhatin hanya mengatakan, permasalahan tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan oleh pihak sekolah.

“Jadi tidak ada masalah lagi,” katanya, singkat.
Sebuah sumber mengemukakan, Solikhatin tidak berani berbicara banyak, karena begitu video itu beredar, pihak sekolah segera mengambil langkah untuk meredam reaksi keluarga korban. Sekolah berharap kasus tersebut tidak menjadi konsumsi publik.

Pihak sekolah diberitakan sudah memberi uang Rp 2 juta kepada keluarga korban sebagai kompensasi. “Keluarga korban juga enggan jika harus berurusan dengan polisi,” ungkap sumber tersebut.

Wakil Ketua Komisi D (bidang Pendidikan dan Kesejahteraan Rakyat) DPRD Jombang, Genti Suwarno, mendesak Dinas Pendidikan memberikan sanksi tegas terhadap guru penganiaya tersebut.

Menurut Genti, aksi kekerasan oleh guru sudah bukan zamannya lagi. Sebab, metode mendidik kini sudah berkembang maju dan menghormati anak didik. “Mendidik dengan kekerasan fisik itu sudah kuno, dan tidak layak diterapkan di masa sekarang,” kata Genti, Kamis (25/12).

Kepala Dinas Pendidikan Setyo Darmoko belum berhasil dikonfirmasi terkait kasus itu. Ketika dihubungi lewat ponselnya berulangkali, Kamis (25/12) siang kemarin, tidak diangkat.

Meskipun apa yang terlihat dalam rekaman video itu terbilang sadis, kepolisian Jombang ternyata hanya bisa menjerat pelaku dengan pasal tindak pidana ringan (tipiring) yang hukumannya paling lama 3 bulan kurungan.

Alasannya, pada tubuh korban tidak ditemukan luka. “Kita hanya bisa menjerat dengan pasal 352 KUHP, karena tidak ada luka,” kata AKP Kasyanto, Kasatreskrim Polres Jombang, Kamis (25/12).
Secara terpisah, Women Crisis Center/WCC Jombang (LSM yang bergerak dalam bidang advokasi untuk isu-isu perempuan) menolak keras apabila polisi menggunakan pasal tipiring terkait kasus penganiayaan itu.

Menurut Sholahuddin, Koordinator Divisi Pelayanan dan Pendampingan WCC, seharusnya polisi menerapkan UU Perlindungan Anak NO 23 Tahun 2002 Pasal 80 untuk menjerat MAPP. “Kalau sudah ada undang-undangnya sendiri mengapa menggunakan KUHP,” tandas Sholahudin.

Menurutnya, berdasarkan UU Perlindungan Anak itu, pelaku bisa diganjar minimal tiga tahun dan maksimal 12 tahun. Sholahuddin sendiri sangat menyayangkan adanya insiden tersebut. Apalagi, kekerasan itu terjadi di lingkungan pendidikan.

“Kami sangat prihatin dengan kejadian tersebut. Oleh karena itu, kejadian yang mencoreng wajah pendidikan itu harus diusut tuntas karena sudah jelas melanggar pasal UU Perlindungan Anak NO 23 Tahun 2002 pasal 80,” kata Sholahdin, Kamis (25/12).

Rangga sendiri, ketika coba ditemui di SMPN I Mojoagung, sepulang sekolah, Rabu terlihat sedang buru-buru naik ke angkutan pedesaan. Saat ditanya, ia mengaku memang dia yang ada di rekaman video itu. “Saya ditampar empat kali,” ucap Rangga di angkutam pedesaan yang mulai melaju.

Beberapa siswa mengutarakan, MAPP memang dikenal sebagai guru yang temperamental, mudah marah. “Jadi sebenarnya bukan hanya Rangga saja yang menjadi korban tempeleng Pak RAPP. Beberapa siswa yang lain juga pernah ditempeleng,” kata seorang siswa yang menolak namanya dikorankan.

Rangga sendiri, ketika coba ditemui di SMPN I Mojoagung, sepulang sekolah, Rabu terlihat sedang buru-buru naik ke angkutan pedesaan.

Saat ditanya, ia mengaku memang dia yang ada di rekaman video itu. “Saya ditampar empat kali,” ucap Rangga di angkutam pedesaan yang mulai melaju.
Beberapa siswa mengutarakan, MAPP memang dikenal sebagai guru yang temperamental, mudah marah. “Jadi sebenarnya bukan hanya Rangga saja yang menjadi korban tempeleng Pak RAPP. Beberapa siswa yang lain juga pernah ditempeleng,” kata seorang siswa yang menolak namanya dikorankan.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Prof Dr Zainuddin Maliki mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan guru SMPN 1 Mojoagung, Jombang terhadap siswanya. Menurutnya, tindakan tersebut tidak sepatutnya dilakukan seorang guru.

“Apapun alasannya, guru tidak boleh menggunakan cara-cara kekerasan terhadap muridnya. Biarpun itu dimaksudkan untuk mendisiplinkan,” tegasnya kepada Surya, Kamis (25/12) malam.

Saat ini, kata Zainuddin sudah tidak zamannya lagi konsep pembelajaran di bidang pendidikan menganut behavioristik – menempatkan siswa sebagai obyek, sementara guru adalah subyeknya.

Akibatnya, kalau siswa tidak menurut terhadap apa yang diperintahkan guru, maka si guru bisa melakukan tindakan seenaknya, misalnya menempeleng siswa di depan kelas dan disaksikan teman-temannya. Tugas guru untuk mengajar, sementara siswa adalah yang diajar tidak muncul. Yang terjadi, tugas guru malah berubah jadi menghajar siswa, karena siswa dinilai pantas dihajar.

“Celakanya praktek konsep pembelajaran yang salah ini masih banyak diugemi guru-guru kita. Sehingga kekerasan di bidang pendidikan kerap terjadi,” tandas Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) ini.

Agar tindak kekerasan di bidang pendidikan berkurang, guru, kata Zainuddin, harus mengubah pola pembelajaran dengan mengusung konsep konstruktivisme. Menempatkan posisi guru dan siswa sejajar, sama-sama sebagai subyek.

Dengan begitu, siswa diharapkan akan menghormati guru, sementara guru akan menyayangi siswa. Siswa tugasnya belajar, sementara guru bertugas memfasilitasi. “Meski posisinya sejajar, tapi fungsinya berbeda,” imbuh salah satu Dewan Pakar Pemprov Jatim ini.

Selain itu, agar ada efek jera terhadap guru, pihaknya juga mendesak kasus kekerasan yang dilakukan guru SMPN 1 Mojoagung, Jombang terhadap siswanya diusut tuntas oleh aparat berwenang. “Dengan begitu, si guru akan mendapat pelajaran dari tindakan yang tak semestinya dilakukan. Terlebih kalau tak tercapai penyelesaian secara kekeluargaan,” jelas Zainuddin.  St8/uji

Iklan

2 Komentar

  1. nova said,

    megerikan potret pendidikan indonesia sekarang ini,sedikit masalah lansung adu jotos membabi buta……………………………

  2. aang said,

    sadar pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: