Lahir Karena Aspirasi Anak Bangsa

Juni 11, 2009 at 10:28 am (Suramadu)

Menyonsong Peresmian Jembatan Suramadu (1)

MUJIB ANWAR

SURABAYA

Tanggal 10 Juni nanti Jembatan Surabaya – Madura (Suramadu) diresmikan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipastikan akan hadir untuk meresmikan jembatan sepanjang 5,438 kilo meter yang di bangun dengan anggaran senilai Rp 4,5 triliun tersebut.

Peresmian Suramadu ini akan menjadi salah satu tonggak sejarah pembangunan di Indonesia. Dengan peresmian itu akan menjadikan Suramadu sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara sekaligus merupakan satu-satunya jembatan di Indonesia yang menghubungkan pulau satu dengan lainnya.

Ketua Umum Dewan Pembangunan Madura (DPM) H Achmad Zaini mengatakan selain menjadi tonggak sejarah bagi Indonesia, diresmikannya Suramadu juga akan menjadi sejarah tersendiri bagi masyarakat Madura. “Jarak antara pulau Madura dan Jawa yang sebelumnya terhalang laut, sekarang dapat ditembus lewat daratan,” ujarnya kepada Surya, Kamis pekan lalu.

Pernyataan Zaini benar, karena berdasar literature yang ada, awal pembangunan Suramadu berawal dari Prof Dr Sedyatmo (alm) di tahun 1960-an terkait pentingnya hubungan langsung antara pulau Sumatera dan Jawa. Tahun 1965 dibuatlah uji coba desain jembatan Sumatera-Jawa (Jembatan Selat Sunda) di kampus ITB Bandung. Awal Juni 1986, ide dan konsep jembatan antar pulau ini disampaikanlah kepada Presiden Soeharto dan disambut baik. Setelah itu, dibentuklah tim khusus terdiri dari pakar dalam dan luar negeri untuk merumuskan detail rencananya. Akhirnya proyek Tri Nusa Bima S a k t i dan Penyeberangan Utama diluncurkan dengan rekomendasi membangun perangkat hubungan langsung Jawa-Madura/Bali adalah prioritas utama.

Tahun 1990 keluarlah Kepres 55/1990 tentang Proyek Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura dengan menunjuk M Noer sebagai koordinator proyek. Setelah itu, berdasar SK Menneg.Ristek/Ka.BPPT No: 283/M/BPPT/VI/91 ditunjuklah PT Dhipa Madura Pradana (PT DMP) sebagai pelaksana proyek. Tapi karena krisis moneter melanda Indonesia 1997, pembangunan proyek prestisius ini terhenti menyusul keluarnya Keppres 39/1997 tentang Penangguhan/ pengkajian kembali proyek pembangunan BUMN dan swasta yang berkaitan dengan Pembangunan/ BUMN.

Angin segar muncul setelah Keppres 8/1998 tentang prioritas program infrastruktur. Di Keppres ini dinyatakan jika pembangunan Jembatan Surabaya-Madura dilanjutkan, maka proyeknya harus masuk daftar prioritas infrastruktur yang dikoordinasikan Bappenas. Seiring bergulirnya reformasi dan keluarnya UU Nomor 22/1999 tentang Otoda, pemerintah memberi kewenangan ke Pemprov Jatim untuk berperan dalam pembangunan Suramadu.

Lantas, 11 Oktober dan 26 November 2001 Gubernur Jatim mengajukan permohonan inisiasi pelaksanaan pembangunan Suramadu dan pencabutan Keppres 55/1990. Permohonan tersebut dipenuhi pemerintah pusat. Dan seiring membaiknya perekonomian, terbitlah Kepres 79/ 2003 yang berisi pembangunan Jembatan Suramadu dapat dilanjutkannya kembali.

Akhirnya, Agustus 2003, Presiden Megawati Soekarno Putri mencanangkan dimulainya pembangunan Suramadu. Pelaksanaannya harus memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jatim dan Rencana Tata Ruang Kawasan (RTRK) wilayah Gerbangkertasusila plus Pamekasan, Sampang dan Sumenep. Tujuannya, agar tidak ada sekat-sekat antara wilayah yang ada di sekitar Jemabatan Suramadu.

Dengan tidak adanya sekat antara Jawa – Madura, pihaknya berharap keberadaan jembatan Suramadu dapat menjadi titik tolak kebangkitan masyarakat Madura dalam segala hal. Mulai pembangunan infrastruktur, industri, perekonomian hingga pendidikan yang berimbas pada meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Karena selama ini, masyarkat Madura ‘ibaratnya’ seperti terisolasi dari dunia luar. “Tapi dengan adanya Suramadu, masyarakat luar akan lebih mengenal bagaimana sesungguhnya Madura,” jelas Zaini.

Karena manfaat pembangunan, sejatinya haruslah diperuntukkan bagi masyarakat. Terutama masyarkat di mana pembangunan tersebut di lakukan. Demikian juga dengan Suramadu. Terlebih hampir semua tokoh Madura sepakat bahwa Suramadu merupakan aspirasi bersama masyarakat pulau garam tersebut.

Sehingga ketika mengetahui konsep awal desain Jembatan Suramadu akan di bangun seperti jalan tol, para tokoh Madura dipimpin H Muhammad Noer mengusulkan kepada pemerintah agar di sisi kiri dan kanan jembatan juga dibangun lintasan motor. Mengingat masyarakat Madura yang memiliki kendaraan roda dua jauh lebih banyak di banding roda empat alias mobil. “Dengan motor boleh lewat, jembatan Suramadu akan lebih bermanfaat lagi bagi masyarakat Madura,” tegas mantan Gubernur Jatim periode 1967 – 1976 yang juga Ketua Dewan Pembina DPM dalam berbagai kesempatan.

Hal senada disampaikan Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekdapov Jatim Chairul Djaelani menambahkan, dengan diresmikannya jembatan Suramadu pihaknya berharap jembatan ini akan menjadi elemen penting dari sistem transportasi yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura. Dari situ, distribusi barang dan jasa akan semakin lancar sehingga dapat mempercepat pembangunan di Madura. “Dengan begitu pengembangan wilayah yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat dapat tercapai,” terangnya.

Hal itu, kata Chaerul dinilai penting, karena selama ini pembangunan wilayah di Madura dibandingkan dengan wilayah lainnya di Jatim relatif kalah. Untuk itu, dengan dioperasionalkannya Suramadu, pihaknya berharap pegembangan dan penataan tata ruang wilayah benar-benar memperhatikan potensi sumber daya alam dan budaya masyarakat Madura. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: