Suramadu Diminta Sediakan Tambal Ban

Juni 12, 2009 at 10:39 am (Suramadu)

Jumat, 12 Juni 2009

Surabaya – Surya

Usulan Pengguna Jalur Sepeda Motor. Secara umum, pengoperasian Jembatan Suramadu disambut gembira oleh masyarakat, khususnya mereka yang biasa pulang-pergi Surabaya-Madura. Sebab, kehadiran jembatan sepanjang 5,438 kilometer itu membuat perjalanan dari Surabaya-Madura atau sebaliknya tak hanya lebih cepat, tapi juga lebih murah dibandingkan dengan perjalanan lewat laut dengan feri.

Meski demikian, ada sedikit kecemasan dari para pengguna jembatan, khususnya yang mengendarai sepeda motor. Mereka mengkhawatirkan kemungkinan ban sepeda motornya meletus atau mogok di tengah jembatan.

Jika harus jalan kaki menuju ke pintu gerbang jembatan akibat motor mogok atau bannya bocor, jarak yang ditempuh akan lumayan jauh -setidaknya 3 km kalau lokasi mogok/ban bocor berada di tengah jembatan. Sedangkan jika sepeda motor yang mogok atau bannya bocor harus dikatrol atau diderek, dikhawatirkan biaya yang dikenakan untuk itu akan mahal.

“Jika motor mogok atau ban bocor saat berada di tengah jembatan, berat juga. Kalau menuntun motor hanya 50 sampai 200 meter saja, nggak masalah. Tapi kalau sampai lebih dari 1 kilometer, ya lumayan tersiksa. Apalagi jika kejadiannya pas di siang bolong yang panas dan lalu lintas padat,” kata Sobri, 35, warga Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Kamis (11/6). Sobri mengaku sehari-hari bekerja di daerah Kenjeran, Surabaya.

Karena itu, bapak dua anak ini mengusulkan ada semacam fasilitas/jasa tambal ban di bagian tengah jembatan. “Kebetulan motor saya yang buatan tahun 2000 agak sering mogok,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Ami, 21. Mahasiswa sebuah PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Surabaya asal Kecamatan Tlanakan, Pamekasan ini juga minta agar di titik tertentu di sepanjang Jembatan Suramadu disiapkan jasa tambal ban atau bengkel motor.

“Ini untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi,” kata Ami.
Apalagi, Jembatan Suramadu menjadi satu-satunya jalan tol yang menyediakan jalur untuk kendaraan bermotor roda dua. Selama ini, jalan tol hanyalah untuk kendaraan roda empat atau lebih.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya-Gempol dan Suramadu, Agus Purnomo mengatakan pihaknya memang sedang memikirkan antisipasi terhadap segala kemungkinan buruk yang bakal terjadi terkait pengoperasian jembatan. Di antaranya mengatisipasi jika ada kendaraan –terutama motor– mogok atau tiba-tiba bannya bocor.
Untuk sementara, pengelolaan tol Jembatan Suramadu itu memang dipegang oleh PT Jasa Marga selama 18 bulan.

“Antisipasi itu penting, karena kalau motor mogok dibiarkan, jelas akan mengganggu kelancaran ruang dan arus lalu lintas,” jelas Agus kepada Surya.
Bentuk antisipasinya, imbuh Agus, telah disiapkan lima pintu darurat di sepanjang tol Suramadu. Jika motor mogok atau bannya kempes di dekat pintu darurat, maka evakuasi akan dilakukan lewat pintu darurat tersebut.

Tetapi kalau motor mogok atau bannya bocor jauh dari pintu darurat, maka akan dievakuasi oleh petugas Jasa Marga dengan menggunakan crane atau katrol. Katrol akan mengambil motor itu dan kemudian menaruhnya di mobil bantuan untuk selanjutnya dibawa keluar tol jembatan menuju bengkel atau tambal ban terdekat.
“Solusi itu nanti yang akan diterapkan. Kalau membuka tambal ban atau bengkel di tengah jalan tol, jelas tidak mungkin,” tegas Agus.

Namun, Agus belum bisa menjelaskan apakah untuk jasa katrol bagi motor itu dipungut biaya atau gratis.
Menurut Agus, jasa tambal ban atau bengkel motor boleh berdiri di titik sebelum akses masuk pintu tol Suramadu, baik di sisi Surabaya maupun Madura.
“Yang jelas, selama masa uji coba jembatan beberapa hari ke depan, berbagai masalah yang muncul akan kita bahas dan kemudian dicarikan pemecahannya. Mohon dimaklumi, ini kan pertama kali kami mengelola jalan tol yang ada lintasan motornya. Apalagi di samping kanan-kirinya ada laut yang hanya dibatasi pagas,” terang Agus.

Sementara itu, pemakaian gratis Jembatan Suramadu untuk umum selama sehari kemarin langsung membuat jumlah penumpang feri jurusan Dermaga Ujung (Surabaya)-Kamal (Bangkalan) atau sebaliknya anjlok hingga 50 persen lebih.
Data di PT Indonesia Feri (ASDP) Cabang Surabaya pada Kamis (11/6) menunjukkan, sejak pukul 08.00 – 15.00 WIB, penumpang dari Ujung hanya 3.000 orang, sepeda motor 1.000, dan kendaraan roda empat hanya 250.
Jumlah tersebut turun dibanding hari-hari sebelumnya. Sebelumnya, pada hari-hari biasa, selama 12 jam, jumlah penumpang di Ujung rata-rata sebanyak 8.000 orang, motor 3.500, dan kendaraan roda empat 1.350.

Kepala PT Indonesia Feri (dulu ASDP, red) cabang Surabaya, Prasetyo membenarkan adanya penurunan penumpang dan kendaraan pada feri dari Ujung ke Kamal atau sebaliknya kemarin.

Namun prosentase penurunan itu belum bisa dijadikan acuan untuk menyimpulkan dampak keberadaan Jembatan Suramadu terhadap bisnis penyeberangan feri. Alasannya, penggunaan Jembatan Suramadu masih digratiskan untuk beberapa hari ke depan.

“Kami baru akan mengevaluasi dampak riil kehadiran Suramadu setelah tarif tol mulai dikenakan di sana,” ujar Prasetyo kepada Surya, Kamis (11/6).

Setelah sempat dibuka untuk umum setelah diresmikan oleh Presiden SBY Rabu (10/6) lalu, pada pukul 13.00 WIB Kamis (11/6) kemarin Jembatan Suramadu kembali ditutup. Alasannya, peralatan dan tenda-tenda untuk peresmian masih banyak yang belum dibereskan di akses masuk di sisi Madura.
“Nanti pada 14 Juni akan dibuka kembali,” kata Eko Prasetyo dari Tim Konsultan Manajemen Konstruksi Jembatan Suramadu, kemarin. uji/st30

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: