Lakon Tan Malaka Akhirnya Terkuak

Agustus 25, 2009 at 3:41 pm (Berita 2009) (, , , , , )

Tan Malaka

Selasa, 25 Agustus 2009 |

JAKARTA – Sejarawan dari Universitas Leiden, Belanda, Harry A Poeze, Selasa (25/8) di Jakarta, meluncurkan buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 2 (Penerbit Yayasan Obor Indonesia). Keberadaan Tan Malaka tidak saja dipaparkan detail melalui tulisan di buku tersebut, tetapi Harry juga menayangkan sejumlah dokumen penting berupa foto-foto dan film.

Pada foto-foto rapat raksasa di lapangan Ikada (sekarang lapangan Monas), Jakarta, 19 September 1945, misalnya, Harry dengan jelimet menemukan seseorang yang memakai helm dekat Bung Karno ketika berpidato. Bahkan pada salah satu foto, Soekarno dan orang itu berjalan berdampingan. Setelah membandingkan berbagai foto itu, Harry berkesimpulan bahwa lelaki berhelm itu adalah Tan Malaka. “Lelaki itu lebih pendek dari Soekarno dan ukurannya di foto ternyata cocok karena tinggi Soekarno adalah 1,72 meter dan Tan Malaka 1,65 meter,” katanya.

Harry Poeze dalam penelitiannya, seperti diungkap pada buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1, juga menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis. Penembakan itu dilakukan oleh Suradi Tekebek atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Pada masa selanjutnya, Soekotjo pernah menjadi Wali Kota Surabaya dan terakhir berpangkat brigjen, meninggal tahun 1980-an.

“Saya melakukan riset sejak mahasiswa, tahun 70-an, ketika menyusun skripsi di jurusan sejarah. Waktu itu saya tertarik sejarah Indonesia, khususnya perlawanan pergerakan melawan Belanda dan perjuangan revolusi. Saya membaca nama Tan Malaka sering disebut-sebut. Saya menulis buku guna menekankan peran Tan Malaka dalam konstelasi politik Indonesia,” katanya.

Sejarawan dari Universitas Indonesia Taufik Abdullah mengatakan, Tan Malaka adalah tokoh pemikir bangsa yang dilupakan. Riwayat hidupnya tidak ditulis. Oleh Harry keberadaan Tan Malaka ditulis dengan detail. Banyak yang menarik ditulis Harry dalam bukunya, yang tidak ada di buku-buku lain. Misalnya, pengikut Tan Malaka tidak hanya Masyumi, PNI, tetapi juga tentara. “Ada juga semacam bonus, penjelasan apa sebabnya Rustam Effendi , yang selama ini dikenal sebagai penyair, kembali ke Indonesia. Bagaimana peran Tan Malana di belakang layar,” katanya.

Menurut Taufik, antiklimak dari buku Harry adalah ditangkapnya Tan Malaka untuk kedua kalinya. Yang menangkap kementerian dalam negeri dan menteri pertahanan. Juga ada keterangan lebih jelas tentang Jenderal Sudirman yang kelihatan pro Tan Malaka. Bukan soal pribadi, tapi perjuangannya.

Buku Tan Malaka yang ditulis Harry adalah buku yang sangat berharga. Tapi memang melelahkan, karena dipaparkan sangat detail. “Kalau waktu sangat terbatas, jangan baca. Karena ini detail. Lagi pula, tak ada akhirnya. Ibarat cerita sinetron, akan bersambung,” ujarnya. kompas.com

Iklan

1 Komentar

  1. mas arifin brandan said,

    jogja 150909

    sangat menarik mencermati artikel seputar sosok figur dan peran penting tan malaka dalam sejarah pergerakan bangsa. figur tan malaka sama bobotnya dengan bung karno, dan juga sama kontroversialnya dengan ketokohan figur dn aidit. artikel apa pun yang mengulas sosok bung karno, tan malaka dan dn aidit, tetap akan menarik untuk dibaca atau diketahui. selain menambah referensi sejarah, berbagai peristiwa yang terkait dengan kontroversi g-30-s (1965) sampai hari ini masih berselimutkan misteri.

    peristiwa kelabu itu telah mengoyak tubuh bangsa. kita tercabik dan ironinya, kita khilaf bahwa anasir-anasir (intelejen) asing seperti cia, nyata-nyata bukan saja bermain tapi juga mendalangi peristiwa keji itu. anasir-anasir asing selalu menyusup sejak perang kemerdekaan, seperti tentara knil yang membonceng sekutu dll. juga cermati peristiwa pemberontakan madiun 1948, dan juga berpuncak pada tragedi g-30-s 1965.

    mindset atau arus utama berpikir kita selama ini, selalu bersikap menyalahkan dan saling tuding antar sesdama komponen bangsa. padahal, pola adu domba seperti itulah yang dikehendaki oleh anasir-anasir asing. kita “berperang” dengan bangsa sendiri, dan kita tak pe4rnah rukun secara nasional, dan itu memperlamah daya tahan militansi kita sebagai bangsa pejuang yang tangguh di masa lalu. konsep devide et impera, diadu domba dengan berbagai cara, akan terus menerpa bangsa ini. kecuali berbagai komponen bangsa segera menyadari ini, dan membangun sebuah rekonsiliasi untuk mengahdapai tantangan globalisme yang bercirikan kapitalisme, hedonisme, dan materialisme.

    sebagai bangsa pejuang, moral dan mental kita mesti tangguh dan tegar. itulah pesan luhur dari kerajaan majapahit, singosari, mataram kuno, dan kerajaan islam demak. jayalah bangsaku jayalah negeriku. mari bersatu, dan mari menuju satu tekad baru: revolusi!

    (mas ab, dari padepokan sunyi di kaki merapi, aruscitra.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: