Entas Kemiskinan dari Titik Nol

Juni 15, 2010 at 3:26 pm (Berita 2010, PHOTO-Tulep, Teras Jawa Timur) (, , , )

MUJIB ANWAR

Suatu pemerintahan dikatakan berhasil jika sukses menanggulangi masalah kemiskinan. Berangkat dari filosofi itu, pemerintahan Gubernur–Wakil Gubernur Jatim Soekarwo dan Saifullah Yusuf bertekad menjadikan program pengentasan kemiskinan sebagai titik tolak membangun Jatim untuk menyejahterakan rakyatnya.
Untuk mewujudkan tekad itu, di tahun pertama pemerintahannya, dwi tunggal Pakde Karwo-Gus Ipul menjalankan program pemetaan jumlah penduduk miskin secara lebih detil.

Pemetaan data dilakukan by name dan by address. Artinya, selain mengetahui berapa jumlah warga/keluarga miskin, nama dan alamat warga harus diketahui. Hal itu masih dirinci lagi dengan membaginya menjadi tiga stratifikasi/kategori rumah tangga miskin, yakni berapa jumlah rumah tangga sangat miskin (RTSM) atau very poor, rumah tangga miskin (RTM) atau poor, dan berapa jumlah rumah tangga hampir miskin (RTHM) atau near poor.

“Validasi data by name dan by address dengan stratifikasi warga miskin itulah yang kita jadikan titik nol untuk mengentaskan kemiskinan di Jatim,” ujar Pakde Karwo.
Untuk mendapat data dan potret valid tentang warga miskin, Pemprov menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim. Hasilnya, Oktober 2009 lalu diketahui dari jumlah penduduk Jatim sekitar 37,8 juta jiwa, jumlah rumah tangga miskin adalah 3.079.822, rinciannya RTHM 1.330.696 (43 persen), RTM 1.256.122 (41 persen), dan RTSM 493.004 (16 persen). “Mereka itulah yang kita jadikan sebagai rumah tangga sasaran (RTS) untuk program pengentasan kemiskinan,” tukas Gus Ipul.

Agar program pengentasan kemiskinan tepat sasaran, Pakde Karwo-Gus Ipul membuat strategi klaster. Klaster I, yakni penanggulangan kemiskinan untuk RTSM dilakukan dengan memberi bantuan/perlindungan sosial dengan cara pemberian bantuan langsung (cash transfer).

Klaster II untuk RTM dilakukan dengan cara pemberdayaan masyarakat, misalnya dengan penguatan koperasi wanita (Kopwan) melalui program simpan pinjam, sedangkan klaster III untuk RTHM dilakukan lewat pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan koperasi serta aksestabilitas terhadap ekonomi (dunia perbankan).

Khusus klaster II dan klaster III, konsepnya dilakukan terpadu dan saling berkaitan. Hal itu dilakukan agar RTM terentas menjadi RTHM, sementara yang RTHM tidak turun menjadi RTM dan dapat terentas dari garis kemiskinan. “Tapi yang terpenting, tentu bagaimana meningkatkan status RTS yang masuk dalam kategori rumah tangga sangat miskin,” tegas Pakde Karwo.

Menurut Pakde Karwo, kemiskinan merupakan masalah multidimensional berkait dengan berbagai aspek yang kompleks, mulai menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam pemenuhan kebutuhan dasar, kapasitas masyarakat dalam mengembangkan lapangan ekonomi melalui lapangan kerja dan berusaha, maupun masalah kerentanan sosial budaya dan kondisi mentalitas yang kurang mandiri akibat terpaan sejumlah permasalahan yang lahir dari kondisi kemiskinan.

Namun, berdasar review terhadap praktik pengorganisasian penanggulangan kemiskinan selama ini menunjukkan belum ada penajaman fokus sasaran antara program karikatif/hibah dan program peningkatan pendapatan masyarakat melalui modal bergulir. “Makanya konsep pemberian bantuan dan pemberdayaan harus dilakukan. Tentu harus disesuaikan dengan karakter masing-masing RTS di daerah,” imbuh Gus Ipul.

Lewat bantuan yang diberikan, Pemprov ingin hal itu memberikan harapan bagi warga miskin bahwa dirinya mampu meningkatkan kesejahteraannya (to give them hope).

Selain itu, strategi meng-orang-kan orang miskin ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan untuk dapat bekerja lebih keras, disiplin, dan bertanggung jawab. “Jika mau bekerja keras, disiplin, dan bertanggung jawab, insya allah mereka (orang miskin) akan semakin maju, sejahtera, dan mandiri,” harap Pakde Karwo.

Harapan itu tampaknya tidak muluk-muluk, karena dalam beberapa tahun terakhir jumlah angka kemiskinan di Jatim, trennya terus menurun. Jika tahun 2007, jumlah penduduk miskin 7.137.699 jiwa (18,89 persen), tahun 2008 turun menjadi 6.651.280 (18,51 persen), dan tahun 2009 turun menjadi 6.022.590 (16,68 persen). Ini berarti ada penurunan angka kemiskinan 1,83 persen dari 2008 ke 2009, jauh di atas penurunan kemiskinan rata-rata nasional.  (SURYA: Rabu, 10 Maret 2010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: